Selasa, 09 Oktober 2012

Tak Terelakkan

Kemaren, tepatnya hari Ahad tanggal 7 Oktober 2012, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Berikut cerita saya, maaf jika sulit untuk dipahami. Semoga bermanfaat. Kejadian pertama, bermula dari usaha kami sekeluarga untuk memperbaiki atap rumah. Waktu itu kami melihat, banyak genting yang rusak dan melorot, sehingga nampak lubang di sana sini. Kalau hujan, pastilah bocor. Kemaren Ahad, kami memperbaikinya. Tak hanya genting, namun juga mengganti talang, saya kesulitan mencari padanan dalam Bahasa Indonesianya. Talang berarti tempat mengalirnya air di atap ketika hujan turun. Begitu definisi mudahnya. Genting, talang, kayu yang rusak diperbaiki semua demi mengantisipasi bocor. Siang harinya, Allah berkehendak menurunkan hujan. Dan meski sudah diperbaiki, rumah saya kebanjiran. Kenapa begitu? Talang yang baru dipasang tadi, ternyata pemasangannya kurang pas, sehingga ada banyak air yang justru masuk ke dalam rumah bukan keluar rumah. Alhasil, kami sekeluarga gotong royong membersihkan rumah dengan penuh perjuangan. Selain itu, kami juga terpaksa hujan-hujan untuk meperbaiki beberapa bagian atap yang masih bocor tadi. Setengah hari memperbaiki agar tak bocor, setengah hari berikutnya diuji dengan kebocoran di sana sini. Allah memang Maha Adil dan Maha Kuasa. Lihat saja, sekeras apapun usaha manusia, namun Allah lebih Kuasa. Ya, manusia makhluk lemah yang tugasnya berusaha dengan segala kemampuan. Soal hasil, serahkan saja sepenuhnya kepada Allah. Dengan kejadian itu, kami masih bersyukur. Untung saja Allah langsung mengirim hujan deras, dan kami semua sedang di rumah. Coba kalau pas hujan deras dan kami tidak di rumah, pasti banjir di rumah akan lebih parah. Alhamdulillah ya Robb… Kejadian kedua, saya tertidur lelap dan bangun terlambat. Setelah seharian aktivitas dan hujan-hujan memperbaiki atap yang bocor, sore harinya badan terasa lelah. Dingin, pegal-pegal dan kantuk menyerang. Tak terelakkan, bakda maghrib pas, saya tertidur pulas hingga jam 20.00 WIB. Padahal jam 19.30 saya berjanji untuk rapat. Maka, begitu bangun, saya langsung bersiap dan menuju lokasi rapat. Sesampainya di lokasi sudah jam 20.30 WIB. Di sana sudah menunggu empat orang teman dan di luar ruangan tanpa bisa masuk, karena tidak membawa kunci. Kami menunggu teman yang membawa kunci. Rapat itu mengagendakan untuk melakukan pendataan. Namun, lagi-lagi kita hanya bisa berencana. Teman yang tahu soal pendataan ternyata ada agenda dan belum mentransfer ke yang lain. Yang bertugas mencari konsumsi dan membuka pintu ruangan lupa koordinasi dan masih di luar kota. Maka, lengkap sudah malam itu. Rapat ditunda, tak bisa masuk ruangan awalnya, dan pendataan belum jadi dilakukan. Benar-benar di luar perkiraan dan rencana awal. Sebelumnya saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa berkumpul semua dan menyelesaikan pekerjaan. Namun, semua di luar kemampuan. Sepertinya, Allah hendak mengajarkan kepada saya banyak hal. Akhirnya, kami pulang dengan membawa data kasar dan belum tau harus diapakan. Saya hanya bisa berdoa, Ya Allah mudahkanlah urusan kami. Meski sebenarnya sudah sering mengalami kejadian serupa. Seolah diingatkan kembali dengan hal ini. Bahwa kita memang punya rencana, namun Allah juga memiliki rencana. Dan sebaik rencana adalah milik Allah. Jangan pula terlalu menggantungkan pada sebab kemenangan dan melupakan peran Allah di dalamnya. Semoga bermanfaat. Sekian.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Alloh Maha Berkehendak :)

davit endra triwinaryanto mengatakan...

bila drenungkan lagi semuanya akan saling menyambung dgn niatan semua aktivitas keseharian kita....oleh karena amal perbuatan balik lagi ke niatan kita, dan apa kita akan dinilai sesuai dg yang kita niatkan. insya Allah dg apapun hasilnya, asal niatan kita ilallah wa rosulillah, kita selamanya akan untung terus.

Artikel Lain